di sini tempatnya berbagi kisah

Mba' Ita

Oleh: Vidora Paramitha.

“Ajari adikmu mengaji,” Bapak menitah kakakku. Dia, adalah remaja perempuan yang tengah dalam masa puber. Serta merta dia bersungut. Tentu saja, dia lebih suka meluangkan waktunya untuk menulis surat balasan bagi belasan teman lelaki penggemarnya, ketimbang harus mencontohkan bunyi suratan pendek dalam juz ‘amma kepadaku. Tapi dia tak punya pilihan. Titah bapak adalah sabda. Jadi, dengan setengah hati dia berwudlu dan meraih Qur’an. Aku terkikik geli melihat mukanya yang menahan jengkel. Jengkel karena keasyikannya terusik, jengkel karena tak kuasa membantah. Lekas dia memakai kerudung merah favoitnya dan duduk di hadapku.
Di saat saperti itu, saat di wajahnya masih tersisa tetes2 air wudlu, paras cantiknya berlipat ganda. Diam-diam, dalam kesibukanku membolak-balik lembar-lembar juz ‘amma, aku mengaguminya. Namun tak pernah berani bertatap jika dia sedang tak bersahabat. Aku tahu pasti, kejengkelan terbesarnya adalah aku, adik perempuan yang selalu ingin ikut serta ke mana dia pergi, selalu mau tahu segala hal yang menjadi urusannya, (termasuk membaca diarynya, satu hal yang sangat terlarang) dan selalu ingin belajar segala sesuatu ( menulis, berhitung, mangaji ) bersamanya. Aku hanya tinggal merajuk pada Bapak, dan semua hal yang menjadi inginku tercapailah.
“Ajak adikmu bermain bersamamu,” Aku bersorak, kakak meringis.
“Belajarlah bersama adikmu, agar dia pandai berhitung.” Aku senang bukan kepalang, kakak tidak.
“Ajari adikmu mengaji.” Aku tersenyum, kakak bersungut.
Tak apa, asalkan aku selalu bersamanya.

Lalu sesi mengaji pun dimulai. “Al qoori’atu mal qoori’ah.” Kakak melafalkan ayat pertama surat Al-Qoori’ah, dan aku mengikuti. Untung baginya, aku bukan anak yang payah. Cepat sekali aku belajar. Memahami dan menghafal pelajaran2 baru bukan hal yang sulit dalam masa kanak-kanak. Dan aku mengerti benar, kakak girang saat dia berhasil mengajarkan hal baru padaku. Diam-diam dia bangga padaku.
Bagiku, dia kakak terhebat di seluruh jagad raya. Sebagai perempuan, cantiknya boleh dibilang hampir sempurna. Hidung bangir, tulang pipi tinggi, dagu lancip, bibir tipis dan mata yang sedikit sipit. Semua dibingkai rambut lurus yang legam dan lebat. Di daerah sekitar tempat tinggalku, tak ada yang secantik dia. Di sekolah, kakak pun selalu menjadi yang paling cantik. Tak heran di meja belajarnya menumpuk surat-surat dari para penggemar yang berbondong-bondong meminangnnya untuk jadi pacar. Teknologi pada masa itu belumlah secanggih sekarang, tak ada hape, tak juga internet. Tulisan tangan berbalas tulisan tangan, orisinil. Jadi, celakalah orang-orang yang tulisan tangannya serupa cakar ayam. Suratnya takkan terbaca oleh kakak, dan tentu saja tak akan ada jawaban.
Kakak mahir merangkai kata-kata indah. Ini satu hal lain yang kukagumi darinya. Aku selalu suka puisi-puisi karyanya. Sesekali puisi itu kusalin dalam buku harianku, lalu perlahan aku belajar merangkai kata-kata ku sendiri. Tentu saja, qiblatku adalah kakak. Aku ingat benar, Ibu guruku di kelas 6 SD memberiku tepuk tangan meriah dan hadiah tunai seribu rupiah karena kutuliskan dua bait berima tentang jasa beliau. Terbukti sudah, waktu yang kuhabiskan menggerecokinya menulis surat cinta dan buku harian adalah waktu yang sangat berarti.
“Nanti kalau kau sudah besar, kau juga akan membalas surat-surat seperti kakak,” ujarnya suatu hari, saat aku bertanya mengapa semua anak laki2 mengiriminya surat. Aku tersenyum senang, membayangkan masa itu tiba. Dan akupun kian giat menulis. Namun hingga aku beranjak 23, jauh setelah melampaui masa pubertasku, tak jua kuterima surat cinta sebanyak surat yang diterima kakak saat umurnya 15 tahun. Bukan main!
Aku tumbuh bersamanya. Segala hal yang ia lakukan sselalu kuimitasi. Di usia sekolah dasar, lagu-lagu kesukaanku berasal dari koleksi album kaset kakak: Michael Jackson, Boyzone, Celline Dion. Liriknya pun kuhafal, kulafalkan meski tak sempurna. Bahasa Inggris menjadi menu wajibku. Apalagi saat kakak memenangi speech contest, kian bernafsu aku belajar untuk menyamai prestasinya. Berkat kakak, nilai bahasa inggrisku di raport selalu memuaskan, dan acapkali aku menjadi juara English contest. Lagi-lagi waktu-waktu yang kuhabiskan untuk mengimitasinya tak menjadi hal yang sia-sia.
Ya, kakak adalah teman berprosesku. Bilangan tahun telah berlalu, namun kakak tetap menjadi yang nomor satu. Rentang jarak dan waktu memisahkan kakak dan aku, namun kenangan bersamanya tak pernah lekang. Pun halnya dia. Aku selalu yakin, saat ini, di seberang sana, dia tengah mengingat kebersamaan kami, seraya tersenyum.


-dedicated to: Viprita Maharani-
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Unknown

Nabi antah berantah

Alkisah....
saat itu ba'da maghrib... tlp selular ku ber-irama syahdu pertanda sebuah pesan masuk. Segera ku raih, ternyata dari seorang sahabat;

"Jika engkau mengikuti tarian perempuan bercadar, maka ikutilah tariannya, jgn kau buka cadarnya." Sebuah kutipan dari Rumi katanya.

aku tersenyum sesaat, lalu segera membalas pesan tsb;

"Lalu bagaimana jika ku buka cadarnya?"


sahabatku jg tak kalah cepat membalas pesan itu;

"Musa sdh melakukannya, 3x. Dan akhrnya Khidir menganggap Ia tdk mampu menghadapi ujian...".

"Bukankah pd akhirnya Musa dpt membuktikan bahwa Ia mampu melewati ujian yg sesungguhnya?" Jawab ku semakin tertantang.


dan ternyata tantanganku itu disambut hangat oleh sahabatku;

"Tidak... ketika bersama Khidir Ia blm bs membuktikannya. Lebih dr itu, Musa berhasil... Dan jgn lupa, Musa lah yg memberi saran kpd Rasulullah shalat 5 wktu saat Mi'raj...". Setelah itu kalimatnya malah bercanda; "Udah Isya, Musa shalat dulu sana, jgn sms-an aja.. kata Khidir.. hehe...


aku tersenyum dahulu sebelum akhirnya kubalas sahabatku itu;

"Ketika tengah mengingatkan utk shlat 5 waktu, ternyata Khidir salah menerka. Sebenarnya org yg sedang berada di hadapannya itu bukanlah Musa, melainkan Yusuf!....."

aku semakin tersenyum lagi sebelum akhirnya kuteruskan kalimatku;

".....Lalu sang Fir'aun berteriak lantang, wahai kau Yusuf dan Musa, janganlah kalian bersekutu untuk menggulingkan kerajaanku! karena jika seorang tampan dan seorang perkasa bersatu menghadapiku, maka tamatlah ketamakanku saat ini juga! Aku msh ingin berkuasa hingga suatu saat nanti budak2 ku berhasil mendirikan sebuah negara merdeka di tengah2 negeri Masjidil Aqsha'. Saat itu Khidir hanya bs tersenyum".

Aku tahu sahabatku disana sedang tersenyum membacanya... ia kehabisan kata2, ia cm bs menjawab;

"Yusuf yg dimaksud oleh Fir'aun adalah Yusuf Kelik"


senyumku semakin lebar;

"Udah ah, shalat! jgn gila mulu! hehe..."

sahabatku tertawa disana, ia ungkapkan lewat pesannya;

"hehe..."

kita sama2 tersenyum, walaupun jauh aku merasakan senyumannya. karena kita adalah sahabat.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Unknown

Dua Potongan Kecil - bagian kedua


Dua Potongan Kecil






Kepingan Kedua



Via Sant’ Eligio, Roma, Italia. 25 februari 2009, 18.30

Beberapa minggu setelah menyelesaikan misinya di Istambul, Roque menghilang begitu saja. Tak ada kabar dan tak satupun tahu keberadaannya termasuk Andrea. Setelah itu ia kembali ke Italia untuk menjalani kehidupannya seperti sedia kala.
Roque memasuki apartement dan menaiki lift menuju kamarnya di lantai 21. Penampilannya tak berubah, masih mengenakan jeans, t-shirt dan topi hitam. Sweater telah ia tinggalkan karena sekarang udara di kota Roma sudah tidak terasa dingin lagi.
Ketika Roque memasuki lift, di dalamnya sudah ada seorang pria paruh baya seorang diri dengan menenteng koran tergulung di tangannya. Pria yang baru kali ini di jumpainya tersebut memberikan senyuman pada Roque, dan ia balas tersenyum.
Orang ini tampak ramah dan berpenampilan santai. Mungkin ia adalah kerabat dari salah satu penghuni apartement ini, begitu pikir Roque. Roque tak ingin ambil pusing dan sebisa mungkin menghindarkan diri dari berhubungan dengan orang-orang yang tidak perlu demi menjaga rahasia identitasnya.
Orang tersebut keluar dari lift, dan kini lift bergerak naik menuju lantai 21. Ketika telah sampai di depan kamar, Roque mendapati sesuatu yang mencurigakan. Seseorang telah memasuki kamarnya. Itu terlihat dari pintu kamar yang masih sedikit terbuka. Roque membuka pintu itu perlahan lalu masuk ke dalam dengan hati-hati.
Di balik tirai tampak sesosok bayangan yang sedang duduk di kursi. Roque bersiap mengeluarkan pistol Jericho 941FB dari balik bajunya.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
Unknown